Construction Worker One Day, Subway Hero the Next

January 4th, 2007 by sukral

Construction Worker One Day, Subway Hero the Next (hurmm this remind me of somebody that I knew for so long..hrmmm…is it maybe me?)

Wesley Autrey teetered back and forth on the edge of a subway platform
yesterday, re-enacting how he dived onto the tracks of a southbound No. 1 train
in Manhattan on Tuesday to save another man’s life.

A little boy with black hair and a bowl cut followed each of his moves. Other
passers-by at the 137th Street station let loose the occasional hurrah or hand
clap. Still others riffled through newspapers, which featured Mr. Autrey’s
picture and headlines like “Subway Superman.”

A few subway stops away, at St. Luke’s Roosevelt Hospital Center on 114th
street near Amsterdam Avenue, Cameron Hollopeter underwent a second day of
medical evaluation. Police said Mr. Hollopeter, a first-year film student at the
New York Film Academy, had suffered a seizure, which sent him convulsing off the
platform and onto the tracks, where Mr. Autrey held him down as the train
rumbled just inches above them.

Moments after the train came to a halt, Mr. Autrey recounted yesterday, Mr.
Hollopeter asked if he was dead. “I said, ‘You are very much alive, but if you
move you’ll kill the both of us.’ ” Both men emerged from the episode with
little more than bruises, but Mr. Autrey also emerged a star.

Mr. Autrey, a 50-year-old construction worker, said he knew something was
different when he showed up for work later on Tuesday. His boss, he said, bought
him lunch — a ham-and-cheese hero — and later told him to take yesterday off.

Then yesterday morning, as he walked to his mother’s apartment in Harlem, “a
stranger came up and put $10 in my hand,” he said. “People in my neighborhood
were like, ‘Yo, I know this guy.’ ”

Once at his mother’s apartment, he held interviews in the living room with
some of the national morning news programs.

After that, it was back to the scene, where he recounted Mr. Hollopeter’s
backward tumble off the platform and into the path of the oncoming train.

Throughout the day, Mr. Autrey’s sister, Linda, 48, played the role of
administrative assistant, logging invitations for the talk-show circuit,
including requests from the David
Letterman
, Charlie Rose and Ellen DeGeneres shows. Phone calls from
well-wishers came pouring in, including one from the mayor’s office. Mr. Autrey
said he had been offered cash, trips and scholarships for his two daughters,
Syshe, 4, and Shuqui, 6, who watched as he dived to the trackbed.

Donald
Trump
’s got a check waiting on me,” he said. “They offered to mail it; I
said, ‘No, I’d like to meet the Donald, so I can say, Yo, you’re fired.
’ ”

By the end of the day, the president of the New York Film Academy, Jerry
Sherlock, had personally handed him a $5,000 check.

Yesterday afternoon, Mr. Autrey and Mr. Hollopeter met again. The meeting was
closed to reporters, but afterward Mr. Autrey described how he stepped into Mr.
Hollopeter’s hospital room, where they shared a few laughs as Mr. Hollopeter’s
father stood by with tears in his eyes.

Shortly after 4 p.m., Mr. Autrey walked out of the hospital with Mr.
Hollopeter’s father, Larry, and into a throng of more than 30 reporters and
camera operators who jammed microphones into their faces.

“This is Cameron’s father,” Mr. Autrey began. “He’s a very, very, nice, nice
man and, you know, I’m not used to this press,” he said, as reporters shouted at
them to lean closer to the microphones and camera shutters popped like party
favors.

Mr. Hollopeter was nervous, his hands shaking, as he read from handwritten
notes.

“Mr. Autrey’s instinctive and unselfish act —— ” Mr. Hollopeter said,
hesitating, as reporters inched closer. “There are no words to properly express
our gratitude and feelings for his actions. Cameron is recovering and stable.
Now he needs his rest, and our wishes are that you respect his privacy. May
God’s blessings be with Mr. Autrey and his family.”

The teary father then slipped back into the hospital, apparently overcome
with emotion.

“Me and the families are trying to make some plans so his family can meet my
family and we can have a little gathering,” Mr. Autrey said, before breaking
into a hearty laugh. “Without the media!”

Mr. Autrey was asked to reflect on the experience.

“Maybe I was in the right place at the right time, and good things happen for
good people,” Mr. Autrey said.

Then he hopped into his brother-in-law’s tan Toyota Corolla. As the car
pulled away, Mr. Autrey had some final words: “All New Yorkers! If you see
somebody in distress, go for it!”

kisah 4 isteri

April 25th, 2006 by sukral

Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai empat orang isteri. Dia mencintai isteri yang keempat dan memberikan harta dan kesenangan yang banyak. Sebab, isteri keempat adalah yang tercantik di antara kesemua isterinya. Maka, tidak hairan lelaki ini sering memberikan yang terbaik untuk isteri keempatnya itu. Pedagang itu juga mencintai isterinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan isterinya ini, dan sering berusaha untuk memperkenalkan isteri ketiganya ini kepada semua temannya. Namun dia juga selalu bimbang kalau-kalau isterinya ini akan lari dengan lelaki yang lain. Begitu juga dengan isterinya yang kedua. Dia juga sangat menyukainya. Dia adalah seorang isteri yang sabar dan penuh pengertian. Bila-bila masa pun apabila pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pandangan isterinya yang kedua ini. dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya melalui masa-masa yang sulit. Sama halnya dengan isterinya yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia sering membawa kebaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dialah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha si suami. Akan tetapi si pedangang tidak begitu mencintainya. Walaupun isteri pertamanya ini begitu sayang kepadanya namun, pedagang ini tidak begitu memperdulikannya. Suatu ketika, si pedagang sakit. Kemudian dia menyedari mungkin masa untuknya hidup tinggal tidak lama lagi. Dia mula merenungi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati, "Saat ini, aku punya empat orang isteri. Namun, apabila aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri." Lalu dia meminta semua isterinya datang dan kemudian mulai bertanya pada isteri keempatnya, "Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah sekarang, aku akan mati, mahukah kau mendampingiku dan menemaniku?" Isteri keempatnya terdiam. "Tentu ! saja tidak!" jawab isterinya yang keempat, dan pergi begitu sahaja tanpa berkata-kata lagi. Jawapan itu sangat menyakitkan hati seakan-akan ada pisau yang terhunus dan menghiris-hiris hatinya. Pedagang yang sedih itu lalu bertanya kepada isteri ketiganya, "Aku pun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Mahukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku?". Isteri ketiganya menjawab, "Hidup begitu indah di sini. Aku akan menikah lagi jika kau mati". Pedagang begitu terpukul dengan jawapan isteri ketiganya itu. Lalu, dia bertanya kepada isteri keduanya, "Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mahu membantuku. Kini, aku perlu sekali pertolonganmu. Kalau aku mati, mahukah kau ikut dan mendampingiku?" Si isteri kedua menjawab perlahan, "Maafkan aku…aku tak mampu menolongmu kali ini. Aku hanya boleh menghantarmu ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu." Jawapan itu seperti kilat yang menyambar. Si pedagang kini berasa putus asa. Tiba-tiba terdengar satu suara, "Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut ke manapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu." Si pedagang lalu menoleh ke arah suara itu dan mendapati isteri pertamanya yang berkata begitu. Isteri pertamanya tampak begitu kurus. Badannya seperti orang yang kelaparan. Berasa menyesal, si pedagang Lalu berguman, "Kalau saja aku mampu melayanmu lebih baik pada saat aku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini isteriku." Teman, sesungguhnya kita punya empat orang isteri dalam hidup ini; ISTERI KEEMPAT adalah tubuh kita. Seberapa banyak waktu dan belanja Yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera apabila kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadapNYA. ISTERI KETIGA adalah status sox dan kekayaan kita. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada! yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yang pernah memilikinya. ISTERI KEDUA pula adalah kerabat dan teman-teman. Seberapa pun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan mampu bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburla mereka akan menemani kita. DAN SESUNGGUHNYA ISTERI PERTAMA adalah jiwa dan amal kita. Mungkin kita sering mengabaikan dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan peribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita diakhirat kelak. Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal kemudian hari!…